UNDIP, Semarang (01/08) — Sampah plastik masih menjadi masalah besar di Indonesia. Dari pencemaran lingkungan hingga peliknya proses daur ulang, tumpukan plastik menjadi tantangan nyata bagi kelestarian bumi. Menjawab keresahan tersebut, tim peneliti Universitas Diponegoro hadir membawa angin segar dengan teknologi inovatif bernama pirolisis katalisis yang mampu mengubah sampah plastik menjadi energi terbarukan.
Teknologi ini digagas oleh Prof. Ir. Didi Dwi Anggoro, M.Eng., Ph.D., IPU, ASEAN Eng., dosen Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik UNDIP, bersama tim dari DIPO Fuel, didukung LPPM UNDIP, serta tiga mahasiswa bimbingannya. Mereka merancang dan mengembangkan alat pirolisis modular yang mengolah limbah plastik tanpa oksigen, dipadukan dengan katalis hasil pengembangan riset lokal. Hasilnya, sampah plastik seperti botol/gelas air minum, sendok makan, bungkus makanan, kantong belanja, hingga styrofoam, bungkus bekas rokok dan lainnya dapat diubah menjadi bahan bakar cair (liquid fuel), gas, dan residu padat (wax) yang bernilai guna.

Lebih dari sekadar alat, inovasi ini menjadi bagian dari komitmen UNDIP dalam menghidupkan semangat “UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat” serta sejalan dengan arah kebijakan Dikti Saintek yang Berdampak, yakni mendorong riset kampus agar benar-benar bisa menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Dalam penjelasannya, Prof. Didi menyampaikan bahwa alat ini didesain dengan sistem pemanas hybrid menggunakan oli bekas dan gas elpiji, memungkinkan alat tetap bekerja bahkan saat terjadi pemadaman listrik. “Untuk oli bekas kita memerlukan blower dan listrik. Jika listrik mati, proses tetap bisa berjalan dengan beralih ke gas elpiji. Tapi yang diutamakan tetap oli bekas karena itu bagian dari prinsip keberlanjutan,” ungkapnya.
Pada uji coba di TPST K3L UNDIP, alat ini berhasil mengolah 37,5 kg limbah plastik campuran dalam proses pirolisis selama 8 jam dengan suhu terkontrol di 443°C. Hasilnya, Sebanyak 12,5 liter bahan bakar cair yang bisa digunakan untuk genset dan kompor modifikasi, serta 2 liter wax cair yang bahkan bisa diolah menjadi bahan campuran paving block ramah lingkungan. Gas sisa yang tidak terkondensasi, seperti metana, digunakan ulang untuk mempertahankan suhu reaktor sehingga mewujudkan proses konversi energi yang nyaris tanpa limbah.